THS-THM Peragakan Silat di Paroki St Andreas Ciluar

Posted by

THS-THM, Ciluar – Pemandangan tak biasa terlihat di halaman Rumah Doa Bumi Maria Sareng Para Rasul (BMSPR) Paroki Santo Andreas Ciluar usai perayaan ekaristi Minggu PraPaskah 1 dan Mengucap Syukur Tahun baru Imlek. Suara musik kendang meruap, mengiring langkah-langkah tegap para pesilat THS-THM dari Ranting Paulus Depok, Ranting Santo Fransiskus Asisi Sukasari dan Ranting BMV Katedral memperagakan jurus, pemecahan dragon dan hebel di depan umat. Demo pencak silat di lingkungan gereja bukan sekadar pertunjukan fisik, melainkan simbol dialog budaya yang mendalam.

Mengapa Pencak Silat Masuk ke Gereja?

Ada alasan-alasan mendasar mengapa seni bela diri tradisional ini mendapat ruang di lingkungan kristiani.

Pertama, identitas kebangsaan. Gereja-gereja di Indonesia memiliki semboyan “100% Katolik, 100% Indonesia”. Menampilkan silat adalah cara umat merayakan identitas mereka sebagai bagian dari bangsa yang kaya akan warisan leluhur, serta menanamkan sumber-sumber iman Gereja Katolik, yakni: Kitab Suci, Tradisi Gereja, Magisterium, pada kehidupan awam dan keluarga.

Berikutnya, inkulturasi budaya. Banyak gereja (khususnya Gereja Katolik) melakukan inkulturasi, di mana unsur budaya lokal diintegrasikan ke dalam tradisi gereja agar iman terasa lebih membumi.

Nilai-Nilai yang Terkandung Dalam Pencak Silat

Demo silat di gereja membawa pesan kuat bagi masyarakat luas:
1. Toleransi Aktif: Menunjukkan bahwa agama tidak membatasi seseorang untuk mencintai budaya lokal.
2. Pendidikan Karakter: Bela diri mengajarkan disiplin dan kerendahan hati—nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran kasih dalam kekristenan.
3. Pelestarian Warisan: Gereja ikut mengambil peran dalam menjaga agar pencak silat tidak punah di tengah arus modernisasi.

(Marseliano Derosari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!